Sabtu, 21 Juli 2018

Sinyal Emergency Misterius Ditangkap Pesawat Citilink


BERINDO45 - Manajemen Maskapai Citilink memberikan keterangan terkait adanya informasi penerbangan rute Semarang-Surabaya yang hilang dari radar. VP Corporate Secretary dan CSR PT Citilink Indonesia, Ranty Astari Rachman menyebutkan tidak ada penerbangan Citilink yang hilang dari radar.

"Pesawat Citilink Indonesia yang terdeteksi hilang dari radar untuk penerbangan QG 801 dengan rute Semarang-Surabaya, dapat kami sampaikan bahwa informasi tersebut tidak akurat,"kata Ranty.

Penerbangan Citilink berkode QG 801 dari Semarang tujuan Surabaya dipastikan terbang normal dan pesawat telah tiba di Bandara Juanda, Surabaya. "Sejauh pemantauan manajemen dan hasil kordinasi di lapangan bahwa penerbangan pesawat yang dimaksud berjalan secara normal dan telah mendarat dengan selamat di Bandara Juanda Surabaya," kata Ranty.

Ranty menyatakan pihaknya menjamin keselamatan dari setiap penerbangan yang diselenggarakan maskapai berplat merah itu. "Manajemen Citilink Indonesia memastikan keselamatan dan keamanan setiap penerbangan, dan hingga hari ini semua penerbangan berjalan secara normal," ujar Ranty.

Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) melalui Humas Airnav Indonesia, Yohanes Sirait memberi penjelasan, sebenarnya yang terjadi adalah pesawat tersebut menerima sinyal emergency. Kemudian Citilink melaporkan kepada Airnav mengenai informasi tersebut yang diterima pihak Airnav pukul 11.13 WIB.

"Citilink melaporkan menangkap sinyal emergency di frequensi 121.5Mhz hingga melewati ketinggian 8000 feet. Jadi bukan pesawat tersebut yang mengalami emergency, tetapi pesawat menerima sinyal emergency," kata Yohanes.

Sinyal emergency dilaporkan sudah tidak terdeteksi oleh pilot Citilink pada pukul 11.18 WIB. Namun sebelumnya, pihak Airnav melaporkan kepada personil SAR Semarang sebagai langkah antisipasi menindaklanjuti laporan emergency.

"Sesuai dengan prosedur, penerbang kemudian melaporkan kepada AirNav Indonesia. Pada kesempatan pertama, kami kemudian melaporkan kepada personil SAR Semarang perihal tersebut," tutur Yohanes.

Sinyal darurat itu hilang ketika pesawat Citilink itu melewati ketinggian 10 ribu kaki. Yohanes juga menjelaskan jika masih ada pesawat yang dalam kondisi darurat seharusnya sinyal darurat bisa bertahan hingga 7 hari.



Basarnas Selidiki

Basarnas kini tengah menyelidiki asal usul sinyal emergency yang mendadak muncul usai pesawat Citilink QG 801 terbang dari bandara Ahmad Yani, Surabaya. Diketahui pesawat tersebut mendeteksi sinyal darurat saat berada di wilayah Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Kepala Kantor SAR Semarang, Noer Isrodin menyatakan, pihaknya tidak mengetahui sumber sinyal tersebut. Dia pun menegaskan, sampai detik ini tidak ada situasi darurat yang dilaporkan.

"Jadi itu hanya sinyal deteksi yang kami tidak tahu, kadang ada yang nangkap ada yang tidak. Sinyal distress (darurat) itu kan melalui radio, radio itu ada di pesawat atau kapal. Tapi sampai saat ini tidak ada kapal maupun pesawat yang diinfokan mengawali situasi darurat," katanya.

Sumber sinyal distress kata Noer tidak hanya berasal dari pesawat dan kapal tetapi juga perorangan melalui alat Personal Location Beacon (PLB). Sinyal tersebut biasanya akan terdeteksi oleh perangkat lain melalui frekuensi 121.5 MHz, jika moda transportasi pesawat atau kapal, serta perorangan pemegang PLB dalam kondisi darurat.

"Bisa jadi ada tiga jenis (sumber sinyal distress). Yang pertama itu dari kapal, tapi ini (Purwodadi bukan wilayah laut) di darat, jadi enggak mungkin. Kedua pesawat, tapi sampai saat ini tidak ada pesawat sipil yang dilaporkan hilang kontak.

Dan ketiga adalah perorangan melalui PLB. Misalnya jika sedang melakukan survei di hutan, jika situasi darurat bisa terdeteksi. Semua terkoneksi dengan Basarnas. Kami bisa memantau di frekuensi 406 MHz. Kami juga pantau terus di 121.5 MHz," katanya.

Noer Isrodin mengakui, pihaknya awalnya mendapat informasi tentang sinyal emergency itu dari AirNav yang mendapat laporan dari pesawat Citilink. Tak berselang lama, kabar tersebut beredar luas di media sosial hingga menimbulkan kecemasan masyarakat.

"Dia (sinyal emergency) sudah lewat, karena di ketinggian 10.000 feet sudah tidak terdeteksi lagi sinyal distress itu. Saya awalnya dapat informasi dari AirNav, hanya saja kan di medsos langsung ramai, gaduh, karena kekurangpahaman sehingga menimbulkan kecemasan," ujarnya.

1 komentar:

  1. dengan minimal deposit 10.000 segera dicoba keberuntungannya bersama kami
    dan menangkan uang hingga jutaan rupiah bersama dewapk**
    dengan pin bb D87604A1 ditunggu ya ^^

    BalasHapus